Achmad Thobib Chusnaini merupakan pendiri Pondok Pesantren Anak-Anak Muhyiddin yang terletak di Kelurahan Gebang Putih, kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Nama kecil beliau adalah Chusnaini, lahir di Desa Tanjung Anom Jombang pada tanggal 8 Mei 1936. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Hamid dan Ibu Nyai Siti Fathimah. Ayah beliau merupakan ulama dan tokoh agama di desa Tanjung Anom Jombang. Sejak kecil beliau hidup di lingkungan keluarga yang taat beragama serta dididik langsung oleh ayahnya dengan disiplin yang tinggi, agar kelak menjadi orang yang agamis dan berakhlakul karimah. Kiai Hamid memberikan pengajaran ilmu agama seperti akhlak, al-Qur’an, Tajwid dan fasholatan kepada Chusnaini. Setelah dirasa cukup menimba ilmu agama kepada ayahnya sendiri Chusnaini dikirim oleh Kiai Hamid untuk melanjutkan menuntut ilmu agama di pondok pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh langsung oleh Hadhrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Pada saat mondok Husaini tinggal satu kamar dengan Gus Dur cucu dari KH Hasyim Asy’ari. 

Kiai Achmad Thobib juga mengadakan Manaqib setiap tanggal 11 bulan hijriyyah di mushalla Pondok. Lambat laun jumlah jamaah yang mengikuti manaqib semakin bertambah banyak bahkan ada jamaah yang berasal dari luar kota seperti Gresik, Sidoarjo dan Lamongan. Sudah ada jama’ah sebanyak puluhan orang akan tetapi masih belum menetap atau mukim untuk tinggal di rumah Kiai Achmad Thobib.

Pondok pesantren anak-anak Muhyiddin diresmikan pada tanggal 11 Rabi’ul Akhir 1415 H/ 16 September 1994 oleh KH. Zainuddin Jazuli dari pondok pesantren Al-Falah Ploso Kediri yang disaksikan oleh pendiri atau pengasuh pondok pesantren anak-anak Muhyiddin yaitu K.H. Achmad Thobib dan Istri Nyai Hj. Achdad Zubaidah beserta sembilan putra-putri beliau.

K.H. Achmad Thobib Husaini dikaruniai 9 anak yakni 4 anak putra dan 5 anak putri yang diantaranya Hj. Zakiyah binti Sulthonah, Hj. Muallifah,H. Ali Sirojuddin, H. Muhammad Saifur Rijal, Tholiatul Izzah, H. Agus Achmad Tajuddin, Hj. Hijjatul Mabruroh, Hj. Badrotus Saidah, dan H. Muhammad Hasan Badri. K.H. Achmad Thobib dikenal memiliki hati yang lembut, sopan santun serta solidaritas yang tinggi pada semua orang.

Pondok pesantren ini diberi nama pondok pesantren anak-anak Muhyiddin oleh KH. Achmad Thobib. Arti dari kata Muhyiddin sendiri adalah menghidup-hidupkan agama Islam. Harapannya dengan adanya pondok pesantren ini nantinya dapat menghidup-hidupkan atau mensyiarkan agama Islam dengan cara berdakwah melalui al-Qur’an yang menjadi ciri khas dari pondok pesantren anak-anak Muhyiddin Gebang Putih Sukolilo Surabaya.

Pada awal perintisan pesantren, santri yang menuntut ilmu di sini masih berupa “santri kalong/jama’ah” yakni santri yang tidak tinggal menetap di pondok pesantren atau asrama, mereka bolak-balik (nglajor) dari rumah sendiri. Para santri berasal dari masyarakat sekitar Gebang Putih seperti Keputih, Mulyorejo dan Klampis Ngasem. Pada tahun 1980 sudah ada puluhan santri kalong/jama’ah yang mengaji secara rutin pada Kiai Achmad Thobib.

Tujuan Pendidikan yang ada di YayasanPondok Pesantren Anak-Anak Muhyiddin antara lain: 

  1. Sesuai dengan fungsi al-Qur’an terhadap orang-orang yang bertaqwa, pondok pesantren anak-anak Muhyiddin sebagai suatu institusi pendidikan dan pengajaran ingin membentuk dan menjadikan manusia (pribadi) muslim yang muttaqin melalui al-Qur’an.
  2. Membentuk Insan Islam yang Hamilil Qur’an yang mampu membaca, menulis, mengerti dan memahami isi kandungan al-Qur’an serta mampu mengamalkan ajarannya “Muslim Hamilil Qur an Lafdhan wa Ma’anan wa Amalan”.
  3. Mencetak ulama yang saleh yang serba guna dan serba bisa.

Adapun visi dan misi pondok pesantren anak-anak Muhyiddin sebagai berikut:

Visi

  1. Mencetak  “Insan  Hamilil  Qur’an  Lafdhan,  Ma’nan  Wa  ‘Amalan” (manusia yang hafal lafadz al-Qur’an, memahami ma’nanya dan melakukan isi kandungannya)
  2. Mencetak Insan mulia yang mampu dan suka membaca, menghafal, menjaga dan mengamalkan al-Qur’an dalam kesehariannya.
  3. Menjadi manusia yang beruntung di dunia dan akhirat.
  4. Mencetak Insan yang ”PASS” (Patuh, Alim, Santun, Sholeh). 

Misi

Memenuhi target pengajaran al-Qur’an di pondok pesantren anak-anak Muhyiddin.

a. Bin Nadhor

  1. Lulus metode Qiraati dalam empat semester pengajaran (2 tahun)
  2. Mendapat syahadah guna persyaratan masuk ke jenjang Tahfidh.

b. Tahfidhul Qur’an

  1. Hafal 8 Juz dalam satu semester pengajaran (6 bulan) bagi murid non sekolah formal
  2. Hafal 5 Juz dalam satu semester pengajaran (6 bulan) bagi murid sekolah formal.

c. Tahfidhul Qur’an Qira-at Sab’ah

  1. Tuntas Tahfidhul Qur’an dalam tujuh semester pengajaran (3,5 tahun) persyaratan sudah hafal dan lancar 30 juz.

Masyayikh

Program Unggulan

Pembentukan Karakter dan Kompetensi Keahlian

WhatsApp Image 2026-01-29 at 09.37.13

Program Tahfidz

Program pendidikan intensif untuk menghafal Al-Qur'an secara menyeluruh melalui metode pembelajaran khusus.

MI - Kegiatan Literasi di Perpustakaan

Program Karakter

Program pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk kepribadian siswa menjadi lebih baik melalui berbagai kegiatan sekolah

MTS - Kegiatan Diskusi Pelajaran di Perpustakaan

Program Prestasi

Program pembinaan intensif akademik dan non akademik kepada siswa untuk mengikuti kompetisi daerah maupun nasional.

Kegiatan

Aktifitas Yayasan

"Jika kamu memilih menghafal Al-Qur'an, sesungguhnya kamu sedang dipilih Allah untuk menjadi Ahlul Qur'an."

Penghafal Al-Qur'an Berkarakter "PASS"

PATUH

Patuh kepada Allah, Rasul, kiai, dan aturan pesantren menjadi fondasi pendidikan santri

ALIM

Di pesantren bukan hanya paham Al-qur'an & kitab, tetapi mampu mengamalkan, mengajarkan, dan menjaga kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat

SHOLEH

Kesholihan santri tercermin dalam ibadah yang istiqamah, bukan hanya urusan pribadi, tetapi jalan pengabdian untuk masyarakat dan keberkahan hidup

SANTUN

Santri diajarkan berbicara dengan hormat, bersikap rendah hati, serta menjaga akhlak dalam setiap keadaan

Galeri Foto

Kegiatan Pondok

UPST00376
UPST00374
UPST00375
UPST00377
UPST00378

"Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi menempa diri menjadi pribadi yang kuat, bijaksana, dan berakhlak mulia."